Berikut adalah cerita kami tentang proses pemotretan yang kami kerjakan di Singapura. Kami ingin cerita pengalaman ini, eh siapa tau ada temen-temen fotografer yang punya rencana buat motret disana atau anda para klien yang berencana pengen foto disana tapi belum ada bayangan. Semoga cerita ini bisa sedikit membantu ya ^^

Total kami berada di Singapura selama 3 hari 2 malam. Saya dan Puri berangkat tanggal 23 Agustus pukul 07.25 dari Jogja, direct ke Singapura. Perjalanan selama 2.5 jam kami tempuh dari Jogja menuju Singapura, lalu kami landing tepat pukul 10.00 waktu Singapura. Sedikit deg2an karena selama proses landing, kita ngelewatin awan-awan hujan, saya hanya berdoa supaya rencana 3 hari 2 malam disini rusak karena hujan. Tibalah kita di Changi International Airport. Satu hal yang membuat saya dan Puri jatuh cinta pada negeri ini adalah, sistem kota yang sangat-sangat sistematis, sistem transport yang sangat tertata memudahkan kita sebagai turis disana. Jika anda baru pertama kali datang ke Singapura, menurut saya 2 hal yang harus anda punya adalah : Kartu Perdana (Kuota) dan Kartu Transportasi (Ez-Link / Singapore Tourist Pass ). Kartu perdana jelas untuk berkomunikasi via handphone. Jangan salahkan provider jika anda tidak mengganti simcard, dan misal anda menggunakan Telkomsel, sekali data anda terbaca disini, 50.000 akan melayang, hahaha. Untuk harga simcard di Singapore, harganya beragam tergantung pada provider dan isi kuota data nya. Harga nya bekisar mulai dari 15$ hingga 45$. So…coba ambil kalkulator, lalu itung2 deh. Kira-kira lebih ngirit beli simcard, atau beli pulsa roaming provider kita, hihi. Jika “masalah” simcard uda terselesaikan, belilah Kartu Transportasi-nya Singapura. Nama kerennya Singapore Tourist Pass. Kartu ini berfungsi bagi anda, untuk menggunakan transportasi publik selama di Singapura. Harga kartu ini beragam juga, tergantung isi saldo didalamnya. Oh iya maaf lupa, Singapore Tourist Pass ini semacam kartu GTO di pintu TOL yang kita harus deposit terlebih dahulu sebelum mengunakan. Harga kartu ini sekitar 12$ – 15$ dengan isi saldo sekitar 7$. Batas minim saldo adalah 5$, artinya jika saldo kartu anda 5$, anda sudah tidak dapat menggunakan kartu ini dan harus melakukan penambahan deposit. Sekedar saran, jika anda berencana di Singapore hanya kurang dari seminggu, 10$ sudah cukup membawa anda kemana-mana kok karena biaya transport ini dibebankan ke kita hanya sejauh kita memakainya. Jadi jika kita naik MRT hanya berjarak 1 stasiun, harganya lebih murah (kurang dari 1$) dibanding jika kita naik dari stasiun awal sampai ke stasiun akhir (ujung ke ujung) pada satu rute. Begitu juga hitungannya jika kita bepergian menggunakan bis kota. Ingat, jangan sampai keenakan memakai transportasi publik disini lalu melupakan jam operasionalnya. MRT dan Bus Kota akan berhenti beroperasi pukul 23.45 waktu setempat. So, kalo kalian jalan2 sampe malem disana, siap2 pulang naik taksi ya. Eiiitsss…jangan underestimate dulu, disana uda banyak Uber ato Grab yang siap sedia semalam apapun kalian mau pulang ke hotel. Memang mahal sih, tapi lebih baiklah daripada kalian harus jalan kan? Haha. Argo minimum Uber Taxi disana adalah 7$ atau sekitar 70.000. Hmmmmm…..Cukup cerita soal negaranya, sekarang kami mau cerita tentang proses motretnya, hahaha….

Bugis – Marina Bay Sand , 23 Agustus 2017

Hari itu kami menunggu kedatangan Nia & Yerri dari Bangkok. Just for info, Nia dan Yerri ini adalah klien lama kami, mulai dari prewedding sampai wedding. Begitu mereka tau kami ada di Singapura diwaktu yang hampir bersamaan, mereka menghubungi kami, bertanya soal detail package, ngepasin waktu dan walla!, kita pun berjodoh. Nia dan Yerri baru sampai di Hotel pukul 20.00. Kebetulan tempat menginap kami hanya bersebelahan, jadi cukup membantu tidak buang waktu buat bertemu. Jam itu juga Puri segera make up Nia, sedangkan saya dan Yerri nunggu mereka diluar hotel. Taulah kami berdua ngapain dideket keranjang sampah, hahaha. Satu jam berlalu, kami bergegas menuju lokasi pertama : Marina Bay Sand (MBS). Sempet ribut dan debat halus mau kesana naik apa, akhirnya kami memutuskan untuk naik MRT karena lebih murah dan tentu saja, CEPET! Perjalanan kami dari Bugis menuju MBS ada sekitar 15 – 20 menit, sesampainya disana Nia dan Yerri buru-buru ganti kostum sementara saya dan Puri “tingak-tinguk” diluar karena lokasinya BAGUS BANGET!!!!! Ga perlu banyak waktu, mereka saya foto didepan “kios” Louis Vitton dan landscape citylight-nya Singapore. Setelah beberapa frame, kami bergegas ke Helix Bridge yang berada tidak jauh dari MBS. Saya minta mereka untuk buru-buru karena saya punya firasat buruk tentang lampu-lampu cantik yang menghiasi jembatan itu. Mungkin kami hanya motret beberapa menit saja ( tidak lebih dari 15 menit ), dan saya putuskan untuk menyelesaikan sesi foto malam itu. Dan taukah anda, tepat pukul 00.00, semua lampu2 di Helix Bridge mendadak dimatikan, PET! Wuuuaaahh…saya berterima kasih sekali pada Nia dan Yerri karena mau diburu-buru karena ternyata firasat saya bener bahwa pada jam tertentu lampu-lampu ini bakal dimatiin, eh ternyata bener. Do the best, then let God do the rest.

Bugis, Fort Canning & Henderson Bridge ,  24 Agustus 2017

Pagi hari nya, kami sepakat untuk mulai persiapan make up pukul 05.00 waktu setempat. Sebangunnya dari tempat tidur, kami bergegas mandi dan telp mereka sekedar checking apakah mereka sudah bangun apa belum. Eh ternyata bener, hahaha…belum bangun. Berulang kami telp, tetep belum bangun. Akhirnya Puri memutuskan buat nyamperin kamar dan bangunin mereka. Taukah anda bahwa waktu Singapore adalah 1 jam lebih awal dibanding di Indonesia. So, jam 05.00 disini berarti pukul 04.00 di Indonesia yang berarti, Matahari nongol aja belum. Hahaha…sedemikian dodolnya kami karena dipikiran kami hanyalah pengen memulai sesi pemotretan sepagi mungkin. Puri bisa selesaiin makeup jam 06.00, dan tentu saja matahari masih belum nongol banget. Tapi kita putuskan buat jalan dan motret dulu di sekitaran Bugis, sekalian jalan pagi, hahaha…sok2an. Setelah sekitar 1 jam an kita muter-muter Bugis dan motret di sekitaran Haji Lane, kami pun bergegas menuju Fort Canning, lokasi kedua.

Sebagai info, Fort Canning ini semcam benteng pendem lah kalo di Indonesia. Benteng yang dulu dibangun semasa perang, dan dijadikan lokasi wisata sejarah. Luas Fort Canning ini = luas banget, M! Dan kami harus mencari lokasi yang dari beberapa orang disana tidak tau lokasi itu ada dimana. Aneh kan? Bahkan ada orang (kaya tour guide gitu) bilang ke kita : Make sure you are came to the right place! Saya ngebatin, orang ini Rude abis deh, hahaha….whatever, kami tetep sepakat : harus nemu lokasi ini! Setelah setengah menyerah, kami membuka peta Fort Canning dan mulai berakting seperti pemburu harta karun. Dan Nia ( yang dari semenjak sesi pemotretan mempunyai energi positif yang ga habis-habis, thanks ya Nia ^^ ) nunjuk satu lokasi dan dia yakin bener, disitulah tempatnya. Abrakadabra! Ternyata, lokasi yang kami cari bukan bagian dari Fort Canning. Tapi hanyalah jalan penghubung dari satu jalan (Penang Street) ke area Fort Canning. Pantes aja orang-orang disana ga ada yang tau. Tapi aneh juga ya, kok mereka sampe ga tau sama lokasi yang sedemikian ajibnya? Apapun alasannya, kami bergegas siap-siapin kamera, flash dan mereka pun ganti kostum. Sama seperti dari sebelumnya, pemotretan di satu lokasi tidak pernah lebih dari 1 jam bahkan kurang dari 30 menit. Lebih lamaan prepare nya daripada motretnya, hehe.

Buat temen-temen yang pengen kesini, naik MRT turun di Dhoby Gaout, trus nyebrang ke arah Fort Canning. Kalian bakal ngelewatin tunnel ini. Okey? ^^

pre wedding singapore

Waktu sudah menunjukkan jam 10.30. Gak pake lama, kita bergegas ke lokasi berikutnya, sambil nyari makan disepanjang jalan. Oh iya, kenapa kami buru-buru?, malam harinya, kami harus pulang ke Indonesia karena tiket sudah terbeli. So, kami harus memakai waktu sebaik-baiknya. Lokasi berikutnya adalah Henderson Bridge. Jembatan ini ada di kawasan Henderson Road. Kami kira, jembatan ini hanyalah jembatan “biasa”, tapi ternyata LUAR BIASA. Jembatan ini tergantung 76 meter diatas jalan, dan buat kalian yang takut sama ketinggian, ga usah liat kebawah ya. Karena tergantung sedemikian tingginya, kami pun harus jalan menaiki tangga dari jalan besar menuju lokasi.

Cukup gempor sih, tapi lokasi ini adalah lokasi wajib ( kata Nia ), jadi ya mau ga mau tetep harus sampe diatas. Sedikit keluar dari pakem saya ketika memotret dimana saya paling anti motret outdoor pas di jam 12.00 siang, karena suatu dan beberapa hal akhirnya saya harus menabrak prinsip saya sendiri. Selain karena waktu yang sudah mepet, ternyata posisi matahari yang tepat diatas kita membuat efek bayangan menarik dari arsitektur jembatan itu. Ahh..tanya banyak ba bi bu, saya hajar aja Nia dan Yerri dengan beberapa pose dan saya selesai motret dalam 20 menit.

Akhirnya kami bergegas kembali ke hotel, siap-siap dan langsung menuju ke bandara, lalu pulaaaaaang!

Cerita diatas adalah pengalaman saya dan Puri selama motret di Singapura. Ini adalah kali kedua kami kesini, tapi pertama kalinya membawa klien untuk difoto. Kami harap cerita diatas bisa menjadi info tambahan bagi temen-temen yang berencana motret disini atau untuk anda para klien yang pengen difoto disini. Menurut kami sih sangat-sangat worth karena yang dihasilkan dari pemotretan disuatu lokasi yang asing bukan hanya foto, tapi juga CERITA ^^

Salam Hormat,
Irawan Gepy Kristianto
@thephotoworks @igkbygepy @gepyisme @vincentiapuri @blissbypuy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *