Maafkan saya jika judul artikel ini sedikit menohok temen2 fotografer. Jujur sudah dari lama saya ingin menulis tentang apa yang ada dibenak saya, tapi selalu saya tahan untuk mencari referensi atau bahan tulisan untuk menguatkan argumen saya. Ada beberapa hal yang membuat saya semakin yakin dengan apa yang saya pikirkan. Izinkan saya menulis ini, supaya apa yang saya gumamkan tersampaikan kepada rekan-rekan sekalian.

Beberapa bulan terakhir ini, sepertinya semesta menempatkan saya pada sebuah peran baru dalam dunia fotografi. Tidak melulu sebagai pelaku bisnis, tapi saya mulai diajak untuk berbicara didepan orang banyak, dan mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk belajar dari teman-teman yang mengundang saya. Persis dengan judul artikel ini, saya ingin mengulas apa yang menjadi perhatian saya dalam beberapa tahun terakhir yang berhubungan dengan fotografer itu sendiri, teknik, alat dan pola pikir. Dan ternyata, melalui peran baru saya ini, saya di perlihatkan bahwa apa yang terjadi sekarang ini (di dunia fotografi tentunya) memang benar-benar sedang terjadi, dan kita sebagai pelaku harus pandai-pandai untuk memilih dan menentukan apa yang harus kita lakukan. Seperti biasa, karena saya bergerak di bidang Wedding Photography, saya akan mempersempit topik ulasan saya hanya sebatas Wedding Photography saja. Jika nanti ada perihal yang relevan dengan genre diluar Wedding Photography, saya pastikan itu adalah sesuatu yang tidak disengaja karena saya tidak begitu mendalami genre lain selain genre Wedding Photography.

POTENSI #1 : HARGA

Beberapa orang pernah bertemu dengan saya, dan kami saling bercerita tentang bisnis yang kami jalankan. Tau sendiri topiknya tidak akan pernah jauh2 dari harga, harga dan membicarakan fotografer lain. Ga usah ketawa, semua orang melakukan itu kok. Hanya porsi nya aja yang berbeda. Terus terang saya masih suka heran dengan “kasus” perang harga ini. Kok masih saja berlaku dikalangan Wedding Photographer? Karena menurut saya, pasar itu sudah terbentuk dengan sendirinya. Kita sebagai pelaku hanya perlu memilih pasar mana yang mau dimasukin. Kalo uda nemu, uda sreg, tinggal dipelajari seluk beluknya pasar itu biar kita bisa masuk didalamnya. Mudah kan? (hehehe), tapi kok ya masih ada aja ya kasus-kasus yang berkaitan dengan harga? Apanya yg salah ya?

Berbekal dengan pertanyaan itu, saya mencoba mencari jawaban dari beberapa teman dan scrolling di timeline saya, baik itu Facebook ataupun Instagram. Setelah beberapa selang waktu saya menghabiskan waktu dengan memperhatikan hasil-hasil foto yang berlalu-lalang di timeline saya, ngobrol dengan beberapa pelaku yang saya kenal, sepertinya saya mulai menemukan jawabannya. Jika dulu Perang Harga disebabkan karena kurangnya sarana untuk menawarkan jasa keluar kota atau daerah, masalah itu sudah terjawab oleh Media Sosial. Sekali anda meng-upload foto Wedding dengan hashtag #wedding , maka secara langsung anda “bertarung” dengan fotografer lain yang menggunakan hashtag yang sama pula, tidak peduli dari mana fotografer itu berasal. Artinya 1) anda sudah bisa menawarkan jasa anda langsung kepada dunia, dan tidak hanya di kota domisili anda. dan arti yang ke 2) bahwa anda secara langsung berhadapan dengan fotografer lain dari seluruh penjuru dunia yang bukan melulu harga yang menjadi tolok ukur tapi juga skill, jam terbang dan tentu saja hasil. Jadi hampir pasti jika anda masih mengeluh tentang Perang Harga, anda pasti masih mempunyai mindset lawas dimana “lawan” yang harus anda kalahkan hanya orang-orang disekitar anda tanpa anda sadari bahwa yang anda hadapi sekarang adalah DUNIA.

Jika kita melihat dari hasil, saya menemukan fakta yang menarik. Pernah denger kutipan ” Ada Harga, ada Rupa “??? Mungkin, sekarang tidak berlaku lagi di dunia Wedding Documentation. Kenapa? Saya menemukan beberapa vendor yang dilihat dari segi hasil, sebenernya dia “salah tempat” atau “salah pasar”. Hasilnya bagus-bagus, keren-keren,  dan mengikuti trend. Tapi, mereka masih nyaman di zona nyaman mereka dan enggan untuk berpindah tempat (baca : pasar) meski melihat dari segi hasil sebenernya mereka layak untuk itu. Bagaimana saya bisa menilai bahwa ada vendor-vendor yang “salah tempat” ?? Saya bisa membaca mereka “salah tempat” dari project-project (wedding) yang mereka kerjakan. Mari kita jujur-jujuran, buktikan sendiri kalo ga percaya :

Sebagai pelaku, anda pasti bisa mengira-ira ato bahkan memastikan, seberapa baik sepasang klien menghargai pernikahan mereka sendiri. Indikator-nya banyak kok, mulai dari hasil makeup, desain gaun, pilihan venue, desain dekorasi dll dll. Saya yakin, kita sebagai pelaku didalam bisnis ini bisa menebaknya. Seorang teman pernah share ke saya bahwa rata-rata value dokumentasi dalam sebuah hajatan pernikahan sebesar 7% dari total budget. Darimana angka 7% ditemukan, tidak lain tidak bukan pasti dari survey dan statistik.  Trus apa hubungannya dengan hasil? Apa yg saya amati adalah semakin banyak vendor-vendor yang menghasilkan produk yang bagus. Bagus dalam hal ini adalah hasil yang mengikuti zaman dan sedang tren. Bagus yang saya maksud bukan dari sisi subyektif saya sendiri, tapi dari segi hak prerogatif klien untuk memillih vendor. Banyak teman-teman vendor yang seharusnya menghargai karya nya (yang bagus) dengan harga yang lebih pantas. Tapi sayang, mungkin mereka masih enggan atau ragu untuk bergerak dari zona nyaman. Salahkah?, jelas tidak…bergerak atau diam saja di sebuah pasar adalah hak dari masing-masing vendor. Tapiiiii…ada satu hal yang merubah tren yg selama ini berlaku : Ada Harga Ada Rupa. Sekarang tidak berlaku lagi karena yg ada Rupa pun kadang tidak karuan Harganya #smile.

POTENSI #2 : GEAR

Disatu kesempatan, ada beberapa orang yang menghubungi saya baik via whatsapp, facebook messager, DM instagram atau ketika bertatap muka. Sebagian dari mereka mencoba mencari opini tentang alat. Beberapa dari mereka juga menjadi second opinion untuk berpindah “agama” (baca:merk). Pernah, ketika saya diundang ke sebuah kota yang diceritakan oleh rekan-rekan disana bahwa adanya Perang Gear antar fotografer. Yah…seperti yang saya ceritakan diatas bahwa kemajuan teknologi dibidang fotografi ternyata secara bersamaan malah membuat kemunduran bagi dunianya. Kenapa bisa demikian? Kemajuan teknologi yang semakin memudahkan ini membuat segala sesuatu yang tadinya masih menjadi PR, tiba2 terjawab, bahkan sudah menjadi tren jika dilihat dari sisi hasilnya. Hasil dari sebuah merk yang secara bersamaan dilakukan oleh banyak pelaku fotografi, lama-kelamaan akan menjadi tren di masyarakat awam. Jika sudah menjadi tren di masyarakat, tidak menutup kemungkinan lama kelamaan menjadi Demand ( atau kebutuhan ) dari masyarakat awam yang disampaikan ke kita sebagai penyedia jasa. Sebagai fotografer yang belum mempunyai style/signature, kecenderungannya akan mengikuti tren dan melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya menjadi sama dengan yg terbukti laku yaitu dengen mencontek bumbu dapur tetangga sebelah yang kemungkinan salah satu bumbu-nya adalah Merk Kamera. Kecenderungan inilah yang membuat semua foto menjadi seragam dan terasa semua sama. Maka dari itu, salah satu materi yang selalu saya sampaikan ke temen-temen adalah :

“…ketika anda mempunyai style foto anda sendiri, anda tidak perlu repot2 untuk berulang kali ganti gear hanya untuk sekedar mengikuti tren. Karena ketika anda mempunyai cirikhas sendiri, secara tidak langsung anda tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi diluar sana. Kata lainnya adalah, anda tidak perlu repot2 mengganti ini itu demi sebuah tren dan anda tetap stick dengan pilihan style foto anda sendiri…tentu saja dengan resiko tersendiri…”

Apa dampaknya ketika semua sama? Jelas, tidak ada yang beda. Jika anda berbeda dari segala sesuatu yang sama, efeknya apa? Jelas anda akan lebih terlihat dibanding dengan semua yang sama di sekitar anda. Apakah ini juga dirasakan oleh fotografer?, saya rasa iya karena dari beberapa fotografer yang berpindah “agama” alasannya diplomatisnya adalah : karena lebih mudah di operasionalkan dan mengikuti tren. Salah?, jelas tidak…karena fotografer punya caranya sendiri untuk berpikir dan membuat sesuatu. Tidak pernah ada yang salah dari segala sesuatu yang terjadi di dunia fotografi, yg terasa hanya efeknya saja ^^

POTENSI #3 : IDEALISME

Bertolak belakang dari bab Gear diatas, IDEALISME menjadi barang langka dari fotografi yg sudah masuk ke ranah Seni. Banyak fotografer yang menyebut bahwa hasil karya nya adalah KARYA SENI padahal diluaran sana masih banyak hasil sejenis yang dengan mudah ditiru banyak orang. Bukannya KARYA SENI itu GENUINE ya? Meski ga ada yg original, paling tidak berbeda (sedikit) dari apa yang menginspirasi. Apalagi kalo hasilnya berasal dari ramuan ( baca : preset editing ) yang sama. Lama kelamaan, sebuah foto Wedding Photography semuanya sama, yg berbeda hanyalah pasangan yg difoto. That’s it! Lantas, perlukah sebuah idealisme untuk seorang fotografer terutama Wedding Photographer? Bagaimana menurut anda? Ketika sebuah trend sedang berjalan dengan market yang luar biasa baik respon-nya, bagaimana cara para idealis ini bertahan? Apakah menjadi idealis menjadi langkah yg tepat? Kalo tidak, masih banyak kok fotografer yang bertanya dan berusaha berbeda dengan kebanyakan hasil foto diluaran sana? Jadi, apakah idealis ini sebuah panggilan diri atau hanya tren tersendiri bagi para fotografer biar terlihat beda ato bahkan terlihat keren?

Tahun 2000-an, ada sebuah band kecil yang berisi 4 orang. Satu cewek dan 3 cowok. Band ini membawakan aroma swing di setiap lagunya. Lirik-lirik romantis dengan nada yang lucu dan suara si vokalis yang centil menjadi ciri khas group band ini. Mereka menamakan diri mereka MOCCA. Si Mocca ini melejit pamor-nya dengan ciri khas idealis yg kental. Ditengah gempuran group band POP dari Major Label seperti Sheila on 7, Dewa, Jikustik dll, Mocca muncul dari jalur yang berbeda, jalur INDIE. Jalur ini adalah jalur yang penuh dengan resiko karena mulai dari rekaman hingga promosi dan distribusi dilakukan sendiri oleh band tanpa bantuan (modal) dari Major Label. Tapi ternyata MOCCA berhasil melakukannya. Mereka tiba-tiba menjadi pembeda di belantara musik Indonesia, mencuri perhatian dari lagu-lagu pop yang mellow abis, ke arah musik yang lucu dan centil. Tidak berhenti disitu. Ketika group band Major Label berjuang Go International ( pol mentok ke Singapura/Malaysia dan Hongkong buat menghibur para TKW disana ), Mocca sudah melanglang buana ke mancanegara, bercerita tentang Indonesia di mata dunia melalui lagu-lagu yang direkam sendiri, albumnya di desain sendiri, di promosikan sendiri, dan di distribusikan sendiri! Ketika semua ada dijalur yg (sepertinya) sudah semestinya, Mocca cuek berjalan dengan caranya sendiri (INDIE). Idealis Manis!

Tapi…lihat industri musik sekarang. Ketika INDIE dilihat sebagai sesuatu yang (sepertinya) menjanjikan dan tentu saja KEREN!, mulai banyak group band yg memilih jalur ini untuk berkarya. Tidak perlu sampe ke taraf nasional, banyak group band lokal yang memilih cara ini untuk naik panggung. Suatu saat, saya dapet invitation dateng ke acara band-band an di kota saya. Disitu tertulis ada beberapa band yang akan manggung, dan bakal touring ke beberapa kota. Setelah saya cari tahu, ternyata acara ini adalah acara Band-band INDIE yang berkolaborasi ( baca : patungan ) untuk bikin acara. SALUT! Jaman saya dulu band-band an, mana ada yang berani kaya gini? Jatohnya tetep nunggu ditawarin naik panggung, dan sekarang band-band ini malah bikin panggung sendiri. Apa ga keren?

Segala sesuatu yang keren dan mengundang perhatian lama kelamaan akan menjadi Tren. Ketika sudah menjadi tren, maka akan semakin banyak orang-orang yang mengikuti tren. Ketika semua orang mengikuti tren, maka sesuatu yang berawal dari idealisme (INDIE) ini lama kelamaan menjadi sesuatu yg mainstream juga. Kenapa?, ya karena semua orang melakukannya!

Balik lagi ke ranah fotografi. Dari cerita diatas, harusnya temen-temen bisa nge-plot in apa yang terjadi di dunia Wedding Fotografi sekarang ini. Jadi, apakah menjadi idealis itu adalah sesuatu yang bodoh?, bisa jadi, karena idealis yang sukses menjadi tren lama-kelamaan akan menjadi mainstream juga. Apakah idealis itu adalah solusi? Bisa juga karena tidak semua orang ( baca : klien ) suka dengan perihal mainstream. Menjadi idealis adalah sesuatu yang asli dari dalam diri dan bukan ikut-ikutan. Idealis adalah panggilan diri untuk menolak sosial yang bersifat mainstream. Idealis adalah sesuatu yg ditawarkan untuk menyegarkan karena berasal dari ramuan yg pas, bukan sebuah produk dari sebuah kekolotan. Kalo anda masih berpikir bahwa idealis adalah suatu jalan keluar dari sebuah kemonoton-an, mungkin anda perlu bertapa sejenak dan mencari apa yang sebenarnya anda cari.

POTENSI #4 : IDEALIS TIPIS-TIPIS

Ketika idealisme sudah (mengarah) menjadi tren, seketika saya dipertemukan dengan seorang senior fotografer. Beliau adalah dosen dari sebuah Institut di Yogyakarta, depannya Institut, belakangnya Indonesia, tengahnya Seni. Hahaha…Kami ngobrol tentang apa itu IDEALISME didunia seni. Dari paparan beliau saya menyadari bahwa yang saya lakukan selama ini bukanlah sebuah produk idealisme, tapi IDEALIS TIPIS-TIPIS. Apa maksudnya? beliau bilang begini :

“…kalo kamu seniman, kamu adalah Idealis. Kalo kamu idealis, kamu ga boleh kerja berdasarkan pesanan. Kamu harus bekerja dengan apa yang kamu pikirkan dalam-dalam. Hasil yg kamu hasilkan adalah hasil dari pemahaman mu tentang apa yg kamu dapat dari sebuah kegelisahan. Kalo kamu masih bekerja atas pesanan, lalu mengerjakan pesanan itu dengan caramu, ya berarti kamu masih Idealis Tipis-Tipis…”

DHUAR!…rasane kaya ditelanjangi bulat-bulat. Saya kira saya sudah cukup idealis ditengah ke-monoton-an industri ini, tapi ternyata tidak sama sekali. Gak papa lah disebut Idealis Tipis-Tipis hahaha.

Idealis semacam ini berpotensi menjadi “kebodohan” seorang fotografer, termasuk saya. Kenapa? Karena posisi nya ga jelas. Idealis, bukan…tapi juga ga mau ngikutin tren. Fotografer semacam ini selalu dihadapkan pada 2 pilihan yang dengan potensi “selingkuh” yang tinggi. Motret mainstream tidak sesuai kata hati tapi pasarnya menjanjikan, motret sesuai kata hati nanti ga selaris tetangga sebelah. Fotografer jenis ini memerlukan banyak hal untuk bertahan, mulai dari pola pikir, semangat edukasi baik ke sesama fotografer atau ke klien dan tentu saja harus menyajikan pilihan baru dan menarik bagi calon-calon klien. Beberapa hal diatas harus dilakukan bersama-sama demi bertahan dan mencari formula terbaik untuk menjadi berbeda dan lebih menarik. Jadi, tidak melulu berjualan, tiap hari ngedit, tiap hari nongkrong di percetakan nunggu produksi klien yang berurut-urutan, si idealis tipis-tipis akan lebih banyak meng-improve dirinya sendiri, membaca pasar dan melakukan yg terbaik buat brand dia sendiri.

PENUTUP

Menjadi seorang pelaku dalam sebuah industri, mau gak mau kita harus mengambil peran. Bagaimana peran itu bisa berfungsi dalam sebuah industri adalah PR yang harus dijawab oleh setiap pemeran itu sendiri. Anggap saja bahwa sebuah industri adalah sebuah Panggung Besar dimana banyak orang akan datang menyaksikan pertunjukkan kita. Masing-masng dari pelaku ada peran yang baik, peran yang jahat, yang berkhianat, yg menghibur, yang berwibawa dll. Memilih peran bukan sebuah hal yang mudah. Terkadang malah kita tiba-tiba ditempatkan pada sebuah peran yang kita sendiri tidak sadar bahwa kita sanggup memerankannya. Tapi demi pertunjukkan yang sukses, setiap orang harus melakukan peran itu dengan sebaik mungkin.

Tapi bagaimana jika setiap pemeran bertingkah semaunya sendiri, memilih peran senyaman mereka, ga bisa “diatur” dan bergerak sesuka hati? Apakah pertunjukan akan menarik? Bagaimana respon penonton jika dipertontonkan sebuah pertunjukan yang tidak menarik? Bisa jadi mereka akan menuntuk harga tiket diturunkan, bisa jadi mereka ga akan balik nonton pertunjukkan kita, bisa jadi mereka akan memicingkan mata setiap kali mendengar pertunjukan ini digelar lagi.

Salah satu faktor kesuksesan sebuah pertunjukkan adalah ketika semua pemeran bisa berperan sesuai dengan perannya masing-masing. Improve dan mendalami karakter peran masing-masing. Saling membantu pemeran lain untuk men-deliver cerita ke penonton lalu men-trigger penonton untuk menghargai apa yang kita lakukan dan perjuangkan.

Apa yang kita lakukan adalah apa yg dipertontonkan ke khalayak banyak. Kita dituntut melakukan yang terbaik, membangun industri ini dengan cara yang baik pula. Membangun insdustri ini adalah tanggung jawab kita sebagai pelaku. Baik buruknya industri, bergantung pada apa yang kita lakukan pada industri itu sendiri.

Selamat memilih peran, hati-hati memilih peran, waspada pada setiap potensi kebodohan, improve diri sendiri, lakukan yang terbaik, dan berikan pelayanan yang terbaik.

Salam Hormat,
Irawan Gepy Kristianto
@gepyisme @thephotoworks

 

 

7 thoughts on “POTENSI “KEBODOHAN” FOTOGRAFER

  1. Haloo bang… bagaimana caranya kita memulai ke bisnis ini tanpa portfolio, walaupun kita punya skill yang menjual…

    salam
    Jumadi

    1. Halloo mas Jumaidi…salam kenal. Banyak cara mas dan banyak jalan mas. Mas bisa keep trying dan keep upload ke media sosial yang punya peluang lebih banyak (karyanya) dilihat orang. Tapi yang lebih efektif adalah ikut orang dulu dan kenali dunia kerja baik teknik hingga attitude pekerjaan-nya. Cari order fotografi sekarang ini bisa terbilang mudah karena bantuan media sosial mas, tapi sayang kemudahan itu tidak dibarengi dengan attitude fotografer/fotografi yang semestinya. Salam ^^

      1. Terima kasih mas Gepy, untuk sementara ini memang saya ikut perusahaan sebagai FG paruh waktu, karena saya menjaga pertemanan saya tidak menggunakan karya saya untuk di publish ke medsos, saya sudah berfikir sih gimana cara pendekatan dengan client, cuma itu mereka selalu minta portfolio. Masalah attitude dan dunia kerja saya sudah bisa membaca mas, dan saya juga sudah menemukan kekurangan dari masing masing perusahaan tadi.

        Salam
        Jumadi

        1. Be a good parasite ya mas…kalo sudah belajar banyak, jangan lupa sama kulitnya. Hormati semua ilmu langsung dari sumbernya. Hehe…Selamat berkarya!

  2. Yang ditulis di postingan ini 120% akurat…membahagiakan sungguhan kok hidup di wedding photography ‘both for being an artist and self entrepreneur’ thanks mas irawan super good motivation!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *