Suatu saat, saya pernah diajak ngobrol dengan seorang yang saya anggap senior dalam profesi fotografi. Saya tidak akan menyebut nama, karena menjadi kode etik untuk menjaga nama baik sesama fotografer. Dia curhat jika memotret prewedding atau engagement adalah sebuah momok buatnya. Kenapa?, saya nanya…Menurut dia, sesi prewedding adalah sebuah sesi motret dimana fotografer manjadi leader atau pemimpin. Selama sesi prewedding (terlebih outdoor), semua keputusan ada ditangan fotografer karena berkaitan dengan waktu, cuaca dan kondisi lokasi. Sedari awal perencanaan time schedule fotografer sudah berperan aktif untuk menentukan lokasi dan waktu yang pas untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jika ada sesuatu diluar rencana, fotografer dituntut untuk menentukan pilihan supaya tidak ada waktu terbuang percuma dan sebisa mungkin maksimal. Sahabat saya ini merasa mempunyai kekurangan dalam menentukan pilihan dalam kondisi yang “sulit”. Terkadang masih ragu-ragu untuk memutuskan sesuatu karena takut salah.

TERNYATA…seorang yang saya hormati pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Menjadi peragu sesaat dalam sebuah sesi pemotretan dimana fotografer menjadi pusat keputusan. Terkadang memang sulit membawahi sebuah project dimana kita menjadi pemutus pilihan. Bisa dikatakan, dalam sebuah project prewedding, seorang fotografer membawahi fotografer lain, asisten fotografer, Make Up Artist dan tentu saja sepasang yang mengharapkan pelayanan terbaik dari kita. Diakui atau tidak, beban tanggung jawab dari sebuah resiko yang besar terkadang menghantui…dan semua itu harus diputuskan dalam waktu yang mepet. Beruntunglah jika semua ada dibawah kendali dan sesuai dengan time schedule yang sebelumnya kita buat. Tapi bagaimana jika semuanya berubah dalam sekejap mata dan semua orang bertanya : “…terus gimana nih?…” Hahaha…saya yakin temen2 pernah merasakan ini.

Sama dengan yang saya alami tempo hari ketika saya melayani 2 couple di Singapore. Negara dimana belum sepenuhnya saya kuasai dan saya harus membawa mereka mengelilingi negara ini ke lokasi-lokasi yang terkadang hanya saya lihat lewat google image atau pinterest. Terus terang, beban itu memang ada, beban dimana saya harus menjadi leader diantara mereka menuju suatu lokasi dan membuat foto diluar nalar mereka. Beban saya sedikit tereduksi ketika kami menemukan lokasi yang kami kehendaki entah lewat google, pinterest atau instagram. Beberapa email juga sudah kami kirim ke lokasi-lokasi yang membutuhkan izin. Sedikit menambah pede, tapi tetep aja tempat ini tidak familiar dengan saya, terutama ketika harus menggeser orang yang masuk ke frame menggunakan bahasa Inggris.

VINA & DENISE

Pasangan pertama kami di Singapore adalah Vina & Denise. Mereka berdua adalah pasangan dari Jakarta. Kami bertemu mereka berkat seorang teman yang menyebarkan promo kami di group whatsapp. Dengan persiapan yang sangat minim karena kesibukan mereka, akhirnya H-2 mereka baru menghubungi kami dan membahas teknik pemotretan mulai dari waktu hinggal kostum. Dan petualangan dimulai ketika H-1 mereka tidak bisa dihubungi sama sekali. Hingga malam tiba, akhirnya kami bertemu di Orchard dan membahas lebih rinci rencana esok pagi, dan pertemuan itu dilakukan jam 23.00! Lokasi belum ditentukan, waktu belum diplot-in, kostum belum diatur hahaha…serba rock and roll. Taukan gimana beban yang harus ditanggung oleh fotografer ketika menghadapi kondisi seperti ini? Apakah salah? tidak sama sekali. Persiapan itu perlu dilakukan, tapi bukan berarti HARUS. Pemotretan akan lebih baik ketika segala sesuatunya dipersiapkan, tapi sekali lagi, jam terbang menentukan segalanya. JANGAN PANIK! Karena bagaimana pun “mendengar” adalah kunci dalam memutuskan. Melihat kondisi malam itu yang sudah larut dan saya melihat kelelahan dimata mereka, saya putuskan untuk memulai pemotretan pada siang hari.

Siang hari keesokan harinya, kami datang ke hotel mereka. Sementara Puri makeup-in Vina, saya menunggu sambil iseng mencari lokasi-lokasi lagi. Ketemulah National Museum of Singapore yg lolos dari pencarian saya sebelumnya. Sebentar saya baca-baca diwebsite mereka, dan saya pun memutuskan untuk mengirim email sekedar mencari tahu perihal penggunaan sebagai lokasi pemotretan. Sekitar 20 menit berselang, ada email masuk dan ternyata dari National Museum of Singapore. Sedemikian cepat mereka membalas email saya dan segera saya teruskan ke Vina untuk opsi lokasi dari beberapa lokasi sebelumnya. Vina pun setuju dan saya memutuskan menggunakan sebagai lokasi pertama.

Setelah National Museum of Singapore, kami berjalan menuju Fort Cannning. 2 lokasi ini kami lalui dengan lancar karena tidak ada sesuatu hal yang menghalangi kami. Lanjutlah kami ke lokasi berikutnya yaitu Universal Studio di Sentosa Island dimana lokasinya lumayan jauh dari pusat kota. Sesampainya disana, firasat buruk mulai menghampiri karena cuaca sangat mendung. Saya hanya berdoa supaya tidak hujan. Meskipun hujan, hujanlah sekali deras setelah itu cerah hingga malam hari. Eh…ternyata bener. Hujan yang bener-bener deras turun ketika kami ada ditengah-tengah lokasi Universal Studio. Panik deh karena tidak hanya hujan, tapi juga angin. Banyak orang berteduh di tempat kami berteduh. Mau motret, motret model gimana? Mau cuma neduh kok buang waktu. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari tempat teduh, mencoba cari spot yang bisa dipakai asal tidak membuang waktu karena waktu sudah mulai petang. Akhirnya nemu 1 lokasi yang bisa kami pakai selama berteduh. Setelah hujan deras itu, cuaca sangat mendukung hingga kami selesai motret pada pukul 23.00

ANGEL & ALVIN

Pasangan kedua kami adalah Angel & Alvin. Sama dengan Vina & Denise, mereka sama-sama dari Jakarta. Kami bertemu dengan Angel melalui social media setelah Angel mencari tau tentang kami dari Instagram, Facebook, Website hingga Bridestory. Ingat yang pernah saya tulis di SINI ?, salah satu cara mencari vendor terbaik untuk anda adalah mempelajari ke-bonafit-an vendor melalui jalur lain. Jika anda menemukan vendor di instagram, check website mereka, kepo-in kepribadian orang-orang dibelakangnya lewat facebook atau apapun, jika mereka punya akun di Bridestory, check review dari klien-klien sebelumnya. Dan ternyata Angel melakukannya dan akhirnya memutuskan menggunakan jasa kami.

Jadwalnya, seharusnya kami bertemu dengan Angel dan Alvin malam sebelum pemotretan. Tapi karena hujan deras di Universal, jadwal kami sebelumnya molor dan akhirnya kami batal untuk bertemu dengan Angel & Alvin. Sama seperti kejadian diatas, persiapan dan briefing itu penting tapi tidak harus dilakukan jika ada kondisi yang membuat itu menjadi tidak mungkin dilakukan. Tapi siapkan beberapa opsi agar pemotretan tetap pada jalurnya dan tidak molor kecuali jika ada major factor seperti cuaca. Malam itu yang seharusnya kami bertemu Angel dan Alvin, kami menelpon mereka dan menceritakan apa adanya dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Akhir kata, kami hanya meminta mereka untuk bersiap pukul 07.00 karena kami akan datang ke hotel mereka dan selama make up kami akan berkoordinasi mengenai waktu, lokasi dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Singkat kata, berangkatlah kami pukul 10.00 menuju lokasi pertama Victoria Concert Hall. Disana kami menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam sebelum kami beralih ke lokasi berikutnya. Kami berjalan dari VCH menuju ke sebuah Tunnel yang menghubungkan VCH menuju ke arah Esplanade. Disana kami hanya sebentar sebelum kami memutuskan untuk pindah lokasi. Dan taukah anda, ketika kami akan pindah lokasi, hujan turun! Padahal rencana kami setelah lokasi ini adalah Fort Canning (outdoor). Setelah beberapa kali melihat hape dan google map, akhirnya kami memutuskan untuk makan didekat Fort Canning dulu, sambil menunggu hujan. Setelah selesai makan, kami bergegas menuju ke Fort Canning. Sesaat setelah keluar dari tempat makan, kami baru menyadari bahwa hujan malah semakin deras. Saya melihat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Artinya jika saya tidak melakukan sesuatu, kami akan membuang waktu banyak dan tentu saja pasangan yang ada dibawah tanggung jawab saya akan sangat kecewa. Saya download aplikasi perkiraan cuaca dan mencoba mencari informasi lain mengenai cuaca dan lokasi. Akhirnya saya memutuskan untuk skip lokasi ini dan mengajak mereka ke lokasi berikutnya : Henderson Bridge. Karena lokasi Fort Canning dan Henderson Bridge cukup jauh, apa yang saya harapkan adalah adanya perbedaan cuaca karena lokasi yang lumayan jauh. Jadi saya nekat aja ngajak mereka ke Henderson karena hal spekulatif itu. Sepanjang jalan saya hanya ngeliat langiiiit melulu, berharap ada secercah cahaya keluar dari langit hahahaha. Dan Tuhan ada di pihak kami, sesampainya di Henderson Bridge, hujan berhenti.

Setelah dari Henderson Bridge hingga lokasi terakhir kami di Orchard, cuaca sangat ada di pihak kami dan kami habiskan sesi pemotretan hari itu hingga pukul 23.00. Puri tepar! Hahahaha

SHARE IS GOOOOOOD!

Ada beberapa hal yang ingin saya share ke temen-temen diluar sana. Hindari menunjukkan kepanikan didepan klien ketika ada sesuatu yang diluar rencana. Melenceng dari rencana itu sudah biasa, meminta waktu untuk berpikir dan memutuskan pilihan itu juga biasa. Jika memang tidak yakin, lemparkan pertanyaan dengan beberapa opsi pilihan yang sudah kita pikirkan. Jangan melempar pertanyaan tanpa opsi, apalagi kalo sampe terlihat kita tidak mempunyai pilihan. Bunuh diri. Tunjukkan bahwa mereka tepat memilh kita sebagai fotografer dan untuk itu, berikan yang terbaik. Layani dengan hati, keputusan untuk melayani sudah jauh-jauh hari kita lakukan, maka penuhi dengan tulus. Dan satu lagi, sebelum memulai segala aktifitas, jangan lupa BERDOA! Itu yang PALING PENTING. Segala sesuatu yang kita rencanakan tidak akan berguna tanpa restu dari yang empunya hidup. Setuju?

Salam Hormat,
Irawan Gepy Kristianto
@gepyisme @thephotoworks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *