Dulu, awal tahun 2010-an, mimpi saya dan Puri ketika pertama kali mendirikan #thephotoworks adalah menawarkan sesuatu yang beda tapi bisa diterima oleh semua orang. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata tidak semua orang bisa menerima idealisme dan style foto tertentu. Ternyata, tidak semua orang bisa menjadi klien kita. Ternyata, kita tidak bisa menyenangkan semua orang yang melihat karya-karya foto kita. Sama seperti selera makan lah, ada yang biasa aja sama Bakso, ada yang tergila-gila sama sate, tapi ada juga yang ga doyan duren. Semua itu adalah selera dan selera adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan karena selera adalah sesuatu yang terbina dari sejak lama, terbentuk dari lingkungan dan sedikit campur tangan garis darah. Selera adalah sesuatu yang tidak bisa kita paksakan karena semuanya itu berasal dari rasa, dari gelombang emosi yang muncul seketika saat dia melihat sebuah benda, melihat lukisan, mendengar lagu, atau apapun bentuk karyanya.

Puji Tuhan dari tahun 2010 hingga hari ini, style foto saya tidak berubah dan Puri sebagai orang yang selalu support saya pun tidak pernah lelah buat mendorong idealisme saya. Kebetulan selera style foto kami sama. Kami senang melihat foto2 style Axioo yg terang benderang dengan warna-warna pastel, tapi emosi kami menggebu-gebu setiap ngeliat foto-foto THEUPPERMOST. Kami senang dengan semangat teman-teman yang mencari berlian ditengah keruhnya kolam ikan, tapi kami nyaman mencari mutiara ditengah lautan tenang #caelaaaaaaaahhh…Begitulah keanehan kami, anak kampung yang sok-sokan bermimpi besar padahal tidur aja jarang. Tapi apa yang saya bilang tentang mimpi adalah bahwa

“…mimpi bukan tentang seberapa besar, tapi seberapa berani memulainya…”

NATASYA & JEFF

Awal tahun 2017 ini, kami berkesempatan kenal dan ngobrol dengan Natasya yang tinggal di Jakarta. Natasya ini sedang mempersiapkan pernikahannya pada bulan September 2017. Setelah panjang lebar ngobrol via whatsapp yang didominasi oleh obrolan sekitar style foto dan domisili kami di Magelang, bisa saya simpulkan sebagai demikian : Nat (cara saya memanggil Natasya) bisa digolongkan sebagai calon pengantin yang belum tau style foto yang dia inginkan. Dia hanya mencoba browsing dan bertanya dari pintu ke pintu. Memang dia menanyakan soal style foto dan bagaimana cara kami handle sebuah acara, tapi saya tau, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bersifat menenangkan dirinya sendiri padahal dia sudah tau jawabannya. Kan lebih manteb klo dijawab sama vendornya langsung. Setelah beberapa hari chit-chat sana sini membahas foto, acara dan lain-lain, tiba2 Nat tidak ada respon sama sekali. Balik lagi ke alinea awal, saya percaya bahwa tidak semua orang adalah klien kita. Jika memang sudah menjadi jodoh dan rezeki, toh nanti juga bakal balik lagi.

Sekitar bulan Agustus, setelah lebih dari 5 bulan lepas kontak, tiba-tiba Nat menghubungi kami lagi. Dia menanyakan ketersediaan jasa #thephotoworks di hari pernikahannya. Kami tahu selang waktu selama ini dia gunakan untuk survey sana sini dan akhirnya Nat kembali pada kami! Dealing dengan Nat ini adalah dealing pertama saya menggunakan tim #thephotoworks yang ada di Jakarta. Bukannya baru pertama motret di Jakarta, karena selama ini kalo motret di Jakarta masih pake tim Magelang, kali ini saya akan motret bareng #thephotoworks tim Jakarta. Sedikit deg2an juga karena pertama kalinya berangkat sendiri dari Magelang ke Jakarta hanya membawa alat dan badan, tanpa ada support temen2 yang biasanya kerja bareng.

Kali ini saya motret bareng orang yang sudah tidak asing lagi bagi saya, namanya pak Yulius. Ada cerita menarik dibalik saya dan pak Yus (begini saya biasa manggil beliau). Pak Yus ini dulu adalah mentor fotografi di tempat dimana saya memantapkan skill fotografi saya di Jakarta. Namanya Jakarta School of Photography (JSP). Sebenernya ada 2 orang mentor yang berjasa pada awal karier fotografi saya, yang pertama Pak Yulius ini, yg kedua bernama pak Herry Tjiang, owner dari JSP itu sendiri. Kedua orang ini lah yang membimbing saya, mengajari saya sampe nyemplungin saya ke bisnis fotografi. Terlebih pak Yus yang sering banget ngajak motret selepas saya lulus dari JSP. Awalnya ragu buat ngajak pak Yus motret bareng, tapi ternyata beliau membuka tangan untuk membantu dan bersedia menjadi second shooter saya. What an Amazing Man! Semangatnya itu loh yang bikin ngiri!

Selama motret acara Nat, kami hanya berangkat ber3. Saya, pak Yus dan satu lagi videografer yang namanya saya lupa hahahaha. Meskipun cuma motret berdua, selama acara dan meliput acara saya ngerasa aman dan bebas buat berbuat apapun dan mau bikin foto kaya apapun. Kenapa?, second shooter saya adalah salah satu dedengkot Wedding Photographer di Jakarta kok, ngapain saya ribet? Hahahaha. Nyamaaaaan banget. Saya ngerasa bener-bener dilepas liar berbuat semau guwe!, karena saya yakin Pak Yus sudah tau apa yang harus dilakukan sebagai fotografer.

Ditengah-tengah acara, saya bersyukur dengan hari ini. Saya anak kampung yang cuma punya mimpi sebagai modal dan salah satu mimpi saya adalah membawa #thephotoworks tidak hanya di daerah saja, tapi juga ke kota-kota besar. Dan hari ini, salah satu mimpi saya terkabul. Jika project-project di Jakarta sebelumnya masih berbau nepotisme kaya temen, sodara, temennya sodara, atau sodaranya temen, kali ini saya bener-bener ngerasa #thephotoworks dipilih oleh orang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. Saya berharap, pencapaian ini tidak hanya sampai disini saja. Saya pengen #thephotoworks secara “reguler” motret di kota-kota besar atau bahkan luar negeri. Itu tekad saya dan semoga #thephotoworks BISA!

Menutup hari itu, biasa setelah acara kami transfer file di lokasi. Kesenangan saya bertambah lagi ketika kami disambut oleh keluarga yang sangat hangat. Keluarga Nat dan Jeff tidak menganggap kami sebagai vendor, tapi sebagai keluarga yang terdapuk sebagai bagian dokumentasi. Setelah semua acara selesai, kami ber3 disamperin bokap Jeff. Beliau membawakan kami WINE (iya..bener-bener wine) sampe 6 gelas! Seneng dan celaka buat saya pribadi. Pak Yus dan si videografer ga doyan minuman begituan, yah…akhirnya saya embat juga tuh wine 6 gelas buat saya sendiri. Alhasil, pas pamit pulang, saya sedikit sempoyongan. Gapapa lah, itung-itung nyenengin yang punya gawe…hwkwkwk

Satu bulan berselang, setelah kami mengirim semua produk ke Nat dan Jeff, masuklah pesan baru ke whatsapp saya dari mereka. Mereka puas dengan hasilnya dan you know what?, mereka tau klo foto-foto #thephotoworks didominasi kesan gelap, tapi setelah mereka liat, mereka tidak menyangka dengan hasil akhirnya. Mulai dari style fotonya, bentuk albumnya dan tata layoutnya. Perfect!

Sungguh menjadi poin dan awal yang baik bagi saya dan #thephotoworks. Tujuh tahun yang lalu bermimpi, baru kali ini terwujud dan ditutup dengan indah.

Jangan pernah meremehkan mimpi. Jangan sekali-kali mentertawakan mimpi orang lain. Sekalli kita bermimpi, semua energi dari dalam diri kita dan energi semesta akan berbaur menjadi semangat yang tidak pernah kita rasakan dan bayangkan. Ketika semuanya siap, jangan terkejut dengan apa yang dihasilkan oleh energi dari mimpi itu sendiri. Be prepare!

Salam,
Irawan Gepy Kristianto
@gepyisme @thephotoworks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *