Selamat pagi teman-teman,

Tempo hari saya mengambil tempat dimeja kerja saya, saya mencoba merefleksi apa yang terjadi pada saya secara pribadi, dan apa yang terjadi pada #thephotoworks, usaha sekaligus anak pertama saya. Menelaah semua yang pernah terjadi dan yang sedang terjadi terkadang menyadarkan kita pada sebuah posisi dan sisi dimana kita berada. Banyak kerjaan itu bagus, baik sekali malah. Tapi terlalu sedikit pekerjaan juga sulit untuk menopang perekonomian. Untuk itulah saya mencoba menerawang jauh kebelakang, berharap saya bisa berbuat sesuatu di masa yang akan datang.

Banyak yang saya pelajari dari beberapa menit yang saya sisihkan untuk “bertapa”. Saya melihat dan meng-introspeksi diri saya sendiri, saya juga melihat disekitaran. Beberapa rekan bersyukur tentang pekerjaannya dengan mengupload hasil-hasil foto nya di media sosial. Ada beberapa rekan yang masih terkesan malu-malu untuk upload tapi hasil fotonya mencengangkan keren-nya. Sungguh fenomena Wedding Photography sekarang ini sedang ada di masanya. Kemudian saya bertanya, kira-kira apa yang membuat perkembangan dunia ini sedemikian cepat? Apakah hanya karena masalah harga? Tidak mungkin lah…tapi saya terlalu Naif kalo saya menepikan alasan itu, karena nyatanya memang seperti itu!…Tapi..saya ga mau berhenti disitu. Saya ingin mencari apa yang menjadi penyebab dunia Wedding Photography sedemikan pesat perkembangannya baik dari segi teknik fotografer nya, hingga ke hasil akhirnya. Tapi jujur saya tidak riset hingga ke hasil akhir cetaknya ya…ntar malah dibilang saya kepo, hahaha.

Ternyata eh ternyata, menurut saya, ada alasan dibalik perkembangan yang baik ini. Salah satunya adalah semakin banyak referensi yang mudah didapat, dipelajari, lalu di praktekkan ( bahasa kasarnya : ditiru ). Sebelum era media sosial berkembang pesat, mencari referensi di dunia maya hanya di provide oleh google, padahal tidak semua hasil karya orang terpampang di page one nya google dan kecenderungan orang uda males untuk membuka sampe ke halaman 3 -nya google. Sekarang ini, hampir semua fotografer wedding menampilkan hasil fotonya di akun media sosial yang dia punya mulai dari fesbuk, instagram hingga pinterest. Belum lagi kalo mau surfing ke website masing-masing fotografer. Mau kepo teknik sama fotografer?, tinggal DM via instagram. Semudah itu!

Menurut saya, kemudahan ini berdampak pada sesuatu yang bisa baik, tapi juga bisa buruk. Salah satu kebaikannya adalah seorang fotografer dengan mudah mencari, melihat dan mem-praktek-kan sebuah teknik memotret dari fotografer yang di-idolakannya. Baikkah?, jelas baik. Seorang fotografer yang dengan kesadaran penuh memasang portfolio nya di akun media sosial, ibarat penjual ikan asin naruh dagangannya di lapak pasar dengan 2 kompensasi dimana ikan itu dibeli orang (ada nilai tukarnya) atau diambil kucing. Tinggal nungu kompensasi apa yang bakal diterima penjual itu dengan naruh dagangan di lapaknya. Penjual itu dengan kesadaran penuh naruh ikan asin di lapak pasar proteksi minimal dengan resiko yang uda dia tau sebelumnya : dibeli orang atau diambil kucing. Meski uda tau resiko nya, toh tetep dilakuin kan buat naruh ikan asin sebagai barang dagangan dilapak : BIAR LAKU. Gimana penjual ikan asin mau laku klo dagangannya ga pernah ditunjukin ke orang? Bener? Lanjut…

Buruknya adalah, mungkin…saya bilang mungkin ya…mungkin kita belum siap dengan kondisi ini dan parahnya, respon dari kondisi yang tiba2 ini adalah : GAGAP. Yah…orang gagap sebenarnya adalah orang yang kurang bisa mengontrol emosi dan kurang fokus dengan apa yang akan dan seharusnya dia katakan atau lakukan. Lalu karena kontrol emosi yang kurang dan ditambah dengan kurangnya kemampuan mempertimbangkan sesuatu, akhirnya keluarlah sebuah Respon. Respon gagap yang saya maksud adalah, ketika dunia persilatan ini bergerak dengan cepat, banyak fotografer yang gagap lalu merespon dengan cara yang menurut dia paling baik. Ketika hasil foto diluar sana semakin menggila keren-nya, sayangnya, banyak fotografer yang gagap segera merespon dengan meng-copy paste apa yang dilakukan oleh seseorang yang (sebenernya) dia akui hasil karyanya. Misalnya apa?, misalnya adalah membeli alat yang sebenarnya belum terlalu butuh untuk dibeli. Contoh…Fotografer A menghasilkan foto yang clink!, tajam dan dengan komposisi warna yang yahud. Karena (sebenernya) mengagumi si fotografer A, fotografer B kemudian meresponnya dengan membeli apa saja yang digunakan oleh fotografer A untuk berkarya, tidak peduli dengan harga jual paket foto yang (mungkin) masih jauuuuuuuuuuuh dibawah si fotografer A. Yang penting hasil fotonya sama dengan fotografer A, ga peduli berapa daya jualnya. Keadaan ini diperparah dengan semakin banyak-nya fasilitas yang diberikan oleh vendor penyedia alat fotografi untuk memudahkan fotografer mempunyai alat yang dia inginkan, contohnya : KREDIT!

“…klo deh…gpp deh ngutang kameranya, yang penting foto-foto nya tajem dan keren…”

Alhasil dari kondisi diatas, saya menyukai hampir semua foto yang saya lewati di timeline social media saya. Semua nya seragam. Seragam warnanya dan seragam editingnya. Karena apa?, alatnya sama! TAPI…ada 1 hal yang dilupakan dengan si fotografer gagap ini : KOMPOSISI. Yes! Komposisi adalah salah satu dasar fotografi yang menurut saya SANGAT SANGAT SUSAH SEKALI DIPELAJARI karena membutuhkan teori, jam terbang dan yang paling sulit : INSTING. Caelah…saya ngomongnya kaya detektif Conan yak? hwkwkwkwk….

Canon 5D Mark IV : Kamera Binal Hwkwkwkwk

Lanjut…

Inilah yang menurut saya menjadi problem utama dari si Gagap. Tanpa dasar yang kuat, sudah diberi alat yang canggih ditengah teknologi media social yang maju pesat.

Saya pengen share sedikit tentang pengalaman saya selama menggeluti dunia fotografi ini. Tahun 1994, saya dikenalin kamera pertama kali oleh bapak saya. Waktu itu kamera merk Pentax. Belum kerasa feeling motretnya, tiba2 tahun 1996 rumah saya kebobolan maling dan selesai cerita saya dengan kamera karena smua alat motret ludes. Akhirnya baru tahun 2009 saya kembali menekuni dunia ini setelah istri saya membelikan kamera dan mengizinkan saya untuk mengambil kursus fotografi di Jakarta School of Photography (JSP) di daerah Kelapa Gading. Mulailah petualangan saya bertemu dengan orang-orang hebat. Di awali bertemunya saya dengan Pak Herry Tjiang sebagai owner JSP dan Pak Yulius Riyanto sebagai mentor. Nama kedua, hingga hari ini masih sering kasih advice dan bahkan mau jadi second shooter saya kalo pas motret di Jakarta, SALUT! Dari kedua orang ini saya diperkenalkan tentang fotografi dan bisnis. Bagaimana membangun bisnis dari sebuah kamera dan hasil foto. Alih-alih hanya memotret, sedikit ilmu branding juga saya dapatkan dari kedua orang ini. Waktu itu, saya diberi pilihan : Mau dapet fee tapi fotomu ga bisa dipake buat portfolio, atau ga pake fee tapi kami bisa pake foto2mu jadi portfolio?…you know what? saya rela ga dibayar motret wedding selama 2 tahun demi punya portfolio yang bisa dipake lagi buat jualan ^^

Sambil belajar, bergeserlah saya ke dunia foto mbak-mbak. Bergabunglah saya dengan komunitas di Kota Tua Jakarta. Disana saya bertemu dengan yang bernama Mas Mulia Arr. Beliau adalah pentolan komunitas itu, pentolan Fotografer.Net dan seorang produser disalah satu televisi swasta. Dari beliau saya belajar tentang menghargai fotografi dari sisi paling liar seorang laki-laki. Berulang kali diajakin motret private polos los los tanpa saya rasakan getaran laki-laki sama sekali selama pemotretan. Dari orang ini saya belajar mempelajari passion saya. Saya semakin yakin dengan kegiatan yang saya lakukan (motret) bahwa inilah passion saya dan saya harus serius di bidang ini.

Eh tiba-tiba saya di inbox oleh seseorang yang waktu itu menjadi fotografer komersial, yang notabene adalah tetangga di kampung saya. Nama nya Mediantono, atau saya sering manggilnya mas Anton atau Opa. Beliau ini fotografer angkatan lawas. Bener-bener perpegang teguh pada teori-teori fotografi yang hakiki. Pernah saya diajakin motret, lebih lama setting alatnya daripada motretnya hahahaha. Tripod harus rata, horizontal harus pas, komposisi harus pas, lighting harus 90% jadi, wah pokoknya serba repot! Sempet ngelokro (hilang semangat) karena saya tiba2 dihadapkan pada sebuah fotografi yang sedemikian rumit dan kaku. Tapi saya yakin ada sesuatu dari apa yang saya alami. Mulai de saya gali apa yang bisa saya ambil dari maksud pertemuan saya dengan Opa ini. Dan akhirnya memang saya dapet. Dari Opa saya belajar jadi profesional. Bagaimana cara ketemu klien, bagaimana berpakaian didepan klien, bagaimana bicara dengan klien, bagaimana cara membalas email, bagaimana me-management file dan arsip penawaran, walah…saya yang tadinya hilang semangat, malah jadi berlipat-lipat semangatnya.

Dan tau apa maksud setelah saya ketemu orang-orang hebat diatas?, ternyata Tuhan memberi kepercayaan pada saya untuk membangun #thephotoworks untuk pertama kalinya dengan rasa mantab dan penuh rasa penasaran.

Halloooo Gagap, apa kalian pernah melalui itu semua diatas? Atau rasa tanggung jawab moral dari karya-karya mu bisa diedit di kamera mahal mu? Saya rasa tidak…

Nikon D850 : Kamera Sadis dengan Hasil Manis, caelah TONK!!!

Tulisan ini bukan mengecilkan seseorang atau kelompok. Tulisan ini bukan menyalahkan orang-orang yang tanpa saya sengaja terkelompok menjadi Si Gagap. Tapi tulisan ini adalah refleksi dari sebuah perjalanan dan kolektif pengalaman fotografi yang tidak bisa dirangkum dengan sebuah alat. Selalu ada cerita disetiap shutter yang terbuang, selalu ada pengalaman disetiap konsep foto yang dikerjakan. Perjalanan moral fotografer memang harus dilakukan secara manual, tidak bisa otomatis dengan mendownload artikel atau bahkan dengan membayar mahal ikut workshop. Teknologi alat tidak pernah selesai berkembang, moral fotografer terbentuk dari pengalaman, dan percaya saya, seturut dengan itu semua, teknik memotret akan semakin berkembang dengan sendirinya.

Sekali lagi, ini adalah opini saya. Mari berdiskusi dengan sehat dan mari refleksi demi fotografi yang lebih maju dan berkembang. Tulisan diatas sebagai pembuka untuk tulisan saya berikutnya yang masih membahas tentang Fotografi, Si Gagap dan Fenomena Bisnis Wedding Photography.

BERSAMBUNG…

Regards,
Irawan Gepy Kristianto
@gepyisme @thephotoworks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *