Judul diatas saya ambil dari beberapa temen yang uda duluan menggemakan sebelumnya. Mohon ijin comot yah, ga ada hak miliknya kan ya? #maksa hwkwkwkwk…

Duh, uda lama banget ga nulis, saking banyak nya kegelisahan sampe bingung mau nulis gimana karena kegelisahan dari ( yang menurut saya ) kesalahan itu lama-lama sudah menjadi kebiasaan. Kalo saya angkat sekarang, saya jadi tersangka utama lagi hahaha…Baik, karena uda lama ga nulis, maaf ya kalo bahasa tulisannya agak aneh. Maklum, biasa pegang yg lain, jadi lupa rasanya megang kibot letop.

Judul diatas saya pilih karena kegelisahan saya eh yang ternyata jadi kegelisahan sebagian temen-temen dan ternyata uda jadi kegelisahan global juga. Kenapa?, silakan liat kesekitar anda, mana yg tidak berubah? Tetangga yang tadinya ga kumisan aja jadi kumisan gara-gara film Bohemian Rhapsody kok. Bener gak? Eos ( guguk saya ) yang kayanya baru kemarin masih bayi, tiba2 uda mens kok. Pasti ada segala sesuatu yang berubah, tanpa atau dengan sadar kita. Jika perubahan itu terjadi atas kesadaran kita, saya yakin, anda pasti uda siap ngadepinnya. Tapi gimana kalo perubahan itu terjadi ketika kita tidak siap dan tiba-tiba semuanya berubah begitu saja. Apa yg kita lakukan? Reaksi pertama : KOMPLAIN. Ga usa mengelak, komplain akan menjadi respon pertama jika ada perubahan yang tidak pernah anda notice sebelumnya. Contoh : Anda pernah beli Pringles?, keripik kentang yang kemasannya kaya wadah bola tenis itu? Jaman dulu, awal2 Pringles keluar, keripiknya terisi sampe ke ujung tutupnya. Sekarang, karena perubahan jaman, perubahan kondisi dan tetek bengeknya, dengan harga yg sama, isi Pringles cuma separuh dari kemasannya. Apa reaksi anda?, “…kok cuman segini sih?…”, “…dulu tu gak segini deh…” dan lain-lain. Contoh lain yang terjadi pada Chiki, Cheetos dan Chitato. Dari luar sih gendut, begitu dibuka, eh kempes dan bijinya bisa iitung. Apa reaksi anda?…pasti KOMPLAIN, dan bisa dikategorikan sebagai MENGELUH. Salah?, tidak lah. Komplain atau mengeluh adalah salah satu sifat dasar dari manusia yg mustahil untuk dihindari. Tapi, kita bisa me-manage-nya, bukan untuk dihilangkan.

Contoh diatas dilihat jika kita berdiri sebagai konsumen. Bagaimana jika kita berlaku sebagai produsen? Kita pasti punya alasan untuk memodifikasi produk bukan? Apakah perubahan ini perlu diketahui oleh konsumen? Bisa iya, bisa tidak. Tapi sejujurnya, pernahkah anda melihat iklan Chiki di tivi, koran atau baliho pinggir jalan yang mengumumkan bahwa jumlah isi chiki sudah tidak sama dengan isi chiki yg dulu dengan tulisan beberapa alasan pertimbangan produsen? Tentu tidak. Keputusan diambil oleh produsen tentang produk yang dilempar ke pasar, dan konsumen punya hak sendiri untuk membelinya ato tidak. Buktinya, sampe hari ini saya masih beli Chiki rasa keju karena buat saya tidak ada “chiki-chiki” yang lain selain CHIKI yg ada gambar bebeknya. You got the picture kah?

Intinya adalah, ada perubahan yang harus dihadapi produsen yang berdampak pada produksinya. Entah harga, entah behavior, entah apapun itu yang memaksa produsen mengambil keputusan walau hanya untuk sekedar bertahan. Begitu pula dengan konsumen. Dari setiap perubahan yang terjadi didalam kehidupannya, konsumen juga punya hak untuk tetap militan dengan sebuah merk, atau berpikir untuk berpaling ke merk lain yang sejenis. Yang menjadi tantangan hari ini adalah, pilihan konsumen untuk berpaling ke merk lain, direspon baik oleh pelaku bisnis. Hasilnya, produsen yang tadinya menjadi satu-satunya merk, dipaksa untuk memeras ide dan tenaga, hanya untuk sekedar bertahan hidup dan bersaing dengan pemain baru yang “hanya” bermodal merespon keinginan konsumen. Siap? Komplain? itu keputusan anda. Jika anda memimpin sebuah perusahaan Chiki yang sudah menghabiskan berjuta bahkan trilliun uang untuk riset demi menghasilkan produk yg baik, lalu mengambil keputusan karena sebuah kondisi perubahan, eh tiba2 angka pembelian menurun gara2 konsumen berpindah ke merk lain yang “hanya” bermodal RESPON yg BAIK ke konsumen, apa yg akan anda lakukan?

ANAK MUDA DAN ENTERPRENEUR

Kemarin saya sempat membaca postingan Najwa Shihab tentang anak muda dan profesi. Singkat kata, Mbak Nana tidak menganjurkan anak2 muda sekarang untuk tidak mem-prioritas-kan PNS, Pegawai Bank atau Pegawai apapun sebagai pilihan utama. Jaman sekarang, masih menurut Mbak Nana, anak muda harus lebih beyond what they think. Kata Mbak Nana lagi, impian menjadi PNS, pegawai bank dan atau pegawai BUMN adalah cita-cita orang tua kita semasa muda dulu. Seharusnya hari ini, cita-cita anak muda adalah ENTERPRENEUR! Saya diem…..saya baca dari atas lagi….diem lagi…saya ulangi lagi….saya berkata dalam diri saya : “…untung dulu saya ga jadi PNS…” #berasamuda

Saya tidak akan membahas kenapa ga boleh jadi PNS dsb ya, silakan nanya ke Mbak Nana sendiri. Tapi yang mau saya pikirkan adalah, kenapa Mbak Nana menyarankan anak muda untuk ber-wiraswasta. Ini pertanyaan menarik lo. Karena penasaran, saya coba-coba cari alasannya. Ternyata, dunia sudah berubah. Perusahaan-perusahaan kreatif mulai bermunculan dengan ide-ide yang besar. Perusahaan-perusahaan alternatif yang lebih fresh mulai bermunculan dengan servis yang tidak kalah dengan perusahaan yang lama. Chiki-chiki baru uda mulai keluar kandang dengan kemasan-kemasan yang lebih menarik, mudah didapatkan, dan mudah diaplikasikan. Hebatnya, dari sebagian perusahaan2 kreatif yang relatif masih muda ini, di gawangi oleh anak-anak muda. Ga usah jauh-jauh contohnya, dan template example : GOJEK. Kalian semua pasti ngerasain hebatnya Gojek bisa mengambil alih fungsi Pak Ojek Pengkolan, Supir Taksi dan fungsi temen buat dititipin makan ato rokok kan? Hebatnya lagi, Gojek tidak berhenti disitu. Mereka expansi sampe ke Vietnam dan India, lalu mereka meng-uji coba-kan sistem mereka disana. Kurang hebat apa?, perusahaan dalam negeri yg uda ekspansi keluar negeri dan dipimpin oleh anak muda.

Bagaimana dengan Respon-nya? DEMO!….stop…kalian tau mana yang lebih bermartabat. Masih inget tentang perubahan yang disadari akan menghasilkan respon yang baik, dan perubahan yang tanpa disadari akan menghasilkan komplain yg buruk kan?

Semua balik ke kita, merespon dengan baik lalu berubah, atau cukup diem lalu ikut2an nge-respon dgn komplain yang buruk karena kita-nya yg ga siap ngadepin perubahan.

PERUBAHAN DALAM PROFESI SAYA ( WEDDING PHOTOGRAPHY )

Sekitar setahunan ini, saya bersyukur jadi salah satu orang yang bisa mendengar perkembangan dan perubahan didunia fotografi, khususnya Wedding Photography. Banyak orang yang bercerita, bahkan tidak jarang hanya karena bertemu tanpa sengaja, semua cerita yang terjadi didunia fotografi mampir ditelinga saya. Dasar saya orang yang analitik, semua tidak hanya berhenti di kuping saya, tapi pelan2 ngerembes di otak saya, mengolahnya dengan berbagai ramuan gaib dari teh anget dan ceriping telo (singkong), berharap menghasilkan formula yg bisa menjadikan respon yg baik melalui jari dan perilaku saya. Bahahaha…serius amat sih!

Hei!, apa yang terjadi pada dunia fotografi, let say 5 tahun terakhir? Perkembangan teknologi kamera?, perubahan perilaku fotografer?, perkembangan teknologi cetak? perilaku freelance yg baperan? ditinggal karyawan yg buka brand sendiri?, apa lagi? you name it! Buanyak dan akan terus berkembang, berkembang dan berkembang. Bagaimana respon kita? Mari kita bahas…

Sebagai wedding photographer, kadang kita serasa di teror oleh teknologi dan teman sendiri. Bagaimana tidak?, ketika kita lagi nabung buat upgrade kamera, eh doi uda beli. Ketika kita lagi bingung cari tagline buat brand, eh brand doi uda jalan duluan then rame aja. Akan begituuuuuuu terus sampe nanti entah kapan. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan kondisi karena sejujurnya kita yang harus menyesuaikan. Lalu berbicara tentang alat. Seberapa modern kah alat-alat yang anda pakai sekarang? Mungkin sangat upto date. Pertanyaan selanjutnya, ketika alat-alat upgrade, apa yg terjadi dengan brand dan skill anda?, apakah otomatis uptodate? Silakan ditanyakan ke masing-masing.

FREELANCE PHOTOGRAPHER

Problem, atau lebih tepatnya “problem” yang sedang hot di masa kini adalah mengenai fotografer freelance. Ada beberapa orang teman yang bercerita ke saya mengenai hal ini. Diskusi kami tentang fotografer freelance berujung pada perihal attitude atau etika dalam bekerja. Freelance yang dulu bersifat “membantu”, sekarang tiba-tiba bisa berubah wujud menjadi “pesaing dalam kelambu ranjang” hwkwkwkwk…Bisa disalahkan?, jelas tidak. Kenapa?, mari kita bahas :

Sebelum lebih dalam membahas tentang freelance, mari kita liat perkembangan teknologi yang bernama Internet dan Social Media. Dalam 20 tahun terakhir, internet di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Dari segi tarif warnet, dulu Rp 100 per menit, 1 jam nya Rp 6.000. Lalu berkembang per jam nya Rp 3.000,-. Ditengah keterbatasan, lalu muncul hape Android yg bisa merubah fungsi warnet. Lalu berbondong-bondong orang beli Hape Android. Karena Android laris, provider hape meresponnya dengan paket-paket data internet yang beragam. Dari yang paling murah, sampe yang paling mahal. Semua ada. Ngeh gak? Perkembangannya ada, nyata dan kita menjadi salah satu pelakunya. Singkat kata, kemudahan ini lah yang kemudian digunakan oleh setiap orang untuk mencari peluang pekerjaan atau usaha, termasuk freelance photographer. Dulu, mau menjadi fotografer itu susahnya minta ampun, dan mahal. Apalagi mau jadi fotografer yang dikenal? Sekarang, semua bisa terjadi dalam sekejap, menggunakan teknologi yg sudah ada.

Lalu ada social media. Social Media adalah media yang bisa kita pakai untuk “menjual” diri kita kepada dunia. Siapa saja bisa menikmati apa saja yang kita share ke timeline, dan menunjukkan siapa kita kesetiap orang, bahkan yang belum dikenal sama sekali. Bagi pekerja kreatif dan penjual visual seperti fotografer, social media sangat membantu dalam perihal pemasaran. Fotografer dengan mudah naruh karya di social media, dan dengan mudah dinikmati oleh orang di seantero dunia. Dan semudah itu pula, seseorang mencapai kepopuleran baik dari sisi karya atau personal.

Cukup untuk Wedding Photography, Freelance Photographer dan Social Media. Lalu apa hubungannya dengan ADAPTASI ATAU MATI mas Gep?

Gini…sebagian orang yang bekerja dengan Freelance Photographer biasanya tidak menyadari atau tidak membatasi dengan jobdesk yg seharusnya. Sehingga, ketika freelance ini bergerak sesuai dengan kemudahan dunia, orang-orang yang mempekerjakan freelance ini tidak siap, lalu meresponnya dengan berbagai bentuk. Saya termasuk orang yang pernah me-respon perubahan ini dengan cara yang salah. Waktu itu mungkin saya lagi On The Top of Baper ya, jadi yg ada dipikiran saya adalah sesuatu yang difensif, lalu yg keluar dari mulut saya adalah sesuatu yang menjengkelkan untuk didengar. Jadi waktu itu, ketika saya tidak siap dengan perubahan jaman, saya sempat mengeluarkan statement gini :

“…freelance yang ikut thephotoworks, harus pilih : dibayar tapi ga boleh posting portfolio online, atau ga dibayar tapi boleh posting portfolio di akun pribadi…”

Mungkin beberapa temen-temen freelance sempet mendengar statement saya ini, lalu nyengir sambil bilang : “…SIAPE ELO?…” Hahahaha…tapi begitulah, kita tidak akan tau mana yang baik, sebelum melakukan kesalahan lalu memperbaikinya. Tapi saya punya alasan kenapa saya sampai mengeluarkan statement itu. Jadi, waktu itu saya ngerasa “kecewa” dengan perilaku beberapa freelance, baik yang pernah kerja dengan saya, atau dengan orang lain. Perihal yang membuat saya BOOM adalah ketika ada freelance yang upload foto duluan menggunakan akun pribadi, sebelum officialy diupload oleh akun vendor resmi. Disini saya merasa ada overlapping yang salah kaprah. Disisi lain freelance ingin eksis dengan update, sedangkan vendor bener-bener menjaga ritme upload-an. Terlepas dari benar atau salah, saya sadar bahwa respon saya tidak benar, meskipun tidak semuanya salah. Paham kan maksud saya?

Begitu juga kalo kita lihat dari sisi Freelance Photographer. Freelance semestinya tau tata cara permainannya. Kalo ga tau, ya nanya donk ah. Menurut saya, “masalah” freelance ini begitu kompleks. Sangat-sangat kompleks dan malah cenderung menggelikan. Kenapa?, karena kebanyakan freelance fotografer hari ini dihuni oleh para punggawa millenials yang notabene punya kitab hidup sendiri, yang terkadang tidak bisa dipahami oleh sebagian orang, khususnya anak2 generasi 80-90an. Contoh misalnya : kerja ga mau banyak aturan, kerja sesuai mood, ga bisa atur waktu – begadang maen Mobile Legend, subuh motret akad, pas retouch tidur mangap dideket pelaminan, kerja gak mau di deadline, atau dikasi waktu seminggu ngerjainnya 2 hari sebelum deadline abis, belum lagi kalo di tegur, nulis uneg2 di status ato di story – lalu kalo ada temen yg nyahut karena paham siapa yg disindir, nganggepnya punya massa lalu playing victim, aaaaah….gitu-gitu lah!

Trus, kita sebagai freelance fotografer itu harusnya gimana mas Gep? Weeee…saya juga ga tau atuh. Jawab dengan logika dan etika aja. Tapi, kalo memang ada yang bertanya demikian, saya akan jawab begini :

“…freelance fotografer itu pekerja lepas, bekerja sesuai yg ditugaskan, memenuhi kewajiban dan menerima hak. Kewajibannya adalah foto, hak-nya adalah fee. Ketika kedua hal itu sudah dipenuhi, maka freelance sudah bebas tugas…” – selesai

TAPI…dengan perkembangan jaman seperti ini, bisa kah? Bisa iya, bisa tidak. Saya punya beberapa kenalan freelance yang tidak peduli dengan portfolio yang dia buat. Dia gak jualan, yang penting tiap kali motret dia diajak jadi freelance. Tapi saya juga punya beberapa freelance yang eksis abis! Project dari vendor manapun yang ngajak dia, diposting di akun pribadinya. Saya tidak menyalahkan ya, tapi memang hari ini, kejadiannya seperti ini, jadi saya merasa perlu meluruskan sebelum semuanya menjadi kebiasaan.

Sebagai vendor, gimana kita meresponnya? Mau membatasi seperti yang pernah saya lakukan?, atau malah membebaskan sebebas-bebasnya? Saya pernah melontarkan diskusi ini ke beberapa pentolan brand besar di dunia wedding photography. Ada yang membebaskan freelance nya untuk memposting di akun pribadinya, ada yang tidak boleh, dan ada yang malah membebaskan sebebas-bebasnya. Cukup beragam. Dan disinilah saya merasa beruntung jadi orang yg analitik, kenal dengan beberapa brand besar, dan berdiskusi dengan mereka tentang apa aja yang mengganggu pikiran saya. Dari orang-orang besar inilah, terkadang saya mendapat ke-legawa-an yang tidak bisa saya dapatkan sebelumnya. Dari mereka juga saya mendapatkan cerita-cerita yang terkadang lebih menyakitkan dari yang saya alami, dan kemudian tau bagaimana respon mereka. Kadang saya menyimpulkan, bertemu dengan banyak orang yang beragam dan berdiskusi dengan cara yang baik, tidak secara instan mengubah diri kita seutuhnya, tapi setidaknya kita bisa memilih bagaimana cara untuk me-respon nya.

Kalo tidak salah, saya pernah bercerita tentang thephotoworks yang sempet pernah jadi second shooter dari Reza Prabowo Photography (RPP). Kebetulan waktu itu double vendor. Sebelum bekerja, saya berulang kali mencari dan bertanya ke Mas Ardi ( former dari RPP ), bagaimana nasib foto2 saya nantinya. Apakah saya boleh ikut motret?, apakah saya boleh upload dsb. Waktu itu RPP adalah main vendornya, jadi saya merasa harus dapet ijin dari mereka sebelum saya kerja. Enggak tau sih, tapi saya merasa uda masuk ke tahap ENOYING karena bersikeras dapetin jawaban secepatnya hahahaha. Tapi prinsip saya jelas. Saya gak mau nanti dibelakang jadi masalah. Jadi saya bisa bekerja dengan tenang. Eh ternyata di bolehkan sama Mas Ardi. Pas hari H, saya ketemu, kenalan dan mas Ardi berbicara tentang beberapa hal, termasuk membolehkan saya meng-upload foto dengan “ cara yang benar “. Bagaimana “cara yang benar” menurut obrolan itu?

Kalo anda ditunjuk sebagai fotografer freelance atau sebagai second vendor, etika yang baik adalah menjaga nama main vendor yang ditunjuk resmi oleh klien. Kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuan main vendor. Begitu juga ketika kita diperbolehkan upload oleh main vendor. Entah peraturan dari mana, tapi ada aturan tidak tertulis, kira2 begini :

“…mention dan tag vendor utama di foto postingan, dan vendor utama disebutkan PERTAMA, sebelum nama pribadi atau nama vendor lainnya…”

Ambil contohnya begini :

Taken from @nunik_mlenik & @gondrong_ndeso85 ‘s Wedding
Image by ( atau Collabs ) @rezaprabowophotography x @gepyisme @thephotoworks
bla…bla….bla

Kira-kira seperti itu. Hanya dengan menghormati tata cara upload seperti ini, kita sudah melakukan yang baik, menjaga etika kita, dan melanggengkan hubungan dengan pihak lain. Mudah kan?

Contoh lain yang baruuuuuuuuu aja saya dapetin.

Ada sepasang pengantin yang difoto oleh vendor A. Saya mengagumi foto-fotonya, karena ditunjang oleh dekorasi yang apik. Selang beberapa bulan ( baru kemarin ), pas saya kepo ke vendor B, salah satu fotografer Jogja ( biar pada penasaran, hahaha ) eh kok saya nemu foto2 klien yang sama dengan klien yang difoto dan diupload sama vendor A tadi. Bedanya, foto2 vendor B lebih lengkap karena mulai dari prepare sampe resepsi ada semua, sedangkan foto yang di upload sama si A hanya pose2 waktu resepsi. Dasar saya tukang kepo dan analitik, saya memberanikan diri bertanya ke vendor B ( yang upload fotonya lebih lengkap ). Dan terjawab sudah misterinya. Mas vendor B bercerita ketemu vendor A di venue resepsi. Waktu itu, vendor A bilang kalo mendapat tugas dari (saya lupa) dari dekorasi ato dari WO. Intinya adalah, vendor B tetap menjadi vendor utama. Menurut data analitik saya ( hari gini klo ngomong gak pake data, bahaya boss! Hahaha ), ada kejanggalan dari postingan kedua vendor itu. Di postingan vendor A, vendor B ga disebut. Di postingan vendor B, vendor A ga disebut. Trus…mana yg bener nih? Anda pasti berpikir “…halah mas Gep, kaya gitu aja diurusin…”, ya! Saya emang kaya kurang kerjaan sampe mau kepo hal kaya gini, tapi disisi lain, ada etika yg terus ditabrak yang lama-lama bisa kebiasaan yang membahayakan. Mau?

Singkat kata, Vendor B bercerita banyak tentang “kejadian” itu. Intinya, dia kalah cepet upload di instagram disbanding vendor A. Karena itulah, dia memutuskan untuk HOLD dulu menunggu beberapa saat ( bulan ) sebelum akhirnya memutuskan untuk mengunggah ke instagram. Miris ya? Vendor utama kok malah jadi ngalah. Saya nanya : “…dongkol gak mas?…”, doi : “…ya iya lah!…” Bahahahaha!!!!!

PERUBAHAN PERILAKU KONSUMEN

Dalam 1 tahun terakhir, ada beberapa temen yang DM saya, atau kontak melalui whatsapp, cerita tentang brand mereka masing-masing. Mereka juga cerita tentang pasar yang (katanya) lagi lesu. Benarkah? Saya mencoba bertanya lebih detail. Tentang pasar yang disasar, tentang konsep brand, tentang harga, dan tentang tantangan-tantangannya. Hal yang pasti, mereka mengeluhkan tentang harga. Sebenernya saya juga, tapi saya memilih untuk tidak peduli dan tetap yakin dengan konsep brand yang saya bangun. Perihal harga menjadi hal yang menjemukan, tapi tetap menarik untuk dibahas karena harga juga menjadi variable pembeda dengan pihak lain. Satu sisi tidak bisa disalahkan, satu sisi bisa dibenarkan selama masih ada yang mau beli. Bener kan? Saya keep cerita temen2 diatas sebagai rambu-rambu buat saya sendiri. Sampai kemarin saya ikut pameran di Magelang, saya mendapatkan cerita yg berbeda. Bisa dibilang, pasar thephotoworks di Magelang belum terbentuk dengan baik. Pekerjaan brand saya di Magelang masih dibilang seret. Tapi ketika saya cerita dengan beberapa temen di Magelang, mereka baik-baik aja tuh? Kerjaannya tetep lancar. Bahkan dalam sehari, mereka bisa ngerjain lebih dari 5 project. So?, apa sebenernya yg salah? Ga ada kan? Brand saya kurang bisa masuk Magelang mungkin karena beberapa hal, tapi untuk brand yang bisa menjawab pasar dengan baik, aman2 aja kok. Apanya yang berubah?

Setelah mencoba mencari tau dan mencari jawaban, ada 1 kemungkinan yang terjadi sekarang ini : Perubahan perilaku konsumen foto mulai bergeser dari yang mencari yang kualitas baik dengan harga pas, menjadi mencari yang kualitas pas dengan harga yg “THEBEST”. Saya tidak paham dengan teori2 ekonomi yang bisa merubah perilaku orang. Tapi setelah beberapa riset, kebanyakan vendor yang laris manis, bergerak di angka jual yang relatif sama. Tinggal ada beberapa hal yang membedakan, mulai dari nama besar brand dan style foto. Jadi, kalo harga dijadikan kambing hitam lagi, ga fair. Perilaku konsumen yang mudah dalam mencari referensi juga mengakibatkan perubahan. Makin banyak pilihan dan makin beragamnya servis yg ditawarkan juga menjadi variable yang sayang untuk dilewatkan. Jadi sekali lagi, kalo kita mengeluh tentang berkurangnya pekerjaan dengan menyalahkan variable harga, saya rasa kok tidak fair. Harga adalah representasi dari apa yang kita punya. Harga adalah hak prerogratif sebuah brand untuk berjualan. Harga terbentuk dari produk-produk yang dipilih, yang artinya beda produk pasti beda harga ( seharusnya ). Jadi…sekali lagi kalo kita masih mengeluh tentang adanya perang harga, berarti kita memilih respon yang salah. Perang harga akan tetap ada, perubahan perilaku konsumen akan tetap terjadi, vendor-vendor baru ( yang merespon demand dengan baik ) akan tetap bermunculan, tinggal kita milih mau meresponnya dengan cara seperti apa. Bukan tentang benar atau salah, tapi respon!

CLOSING
( jaman dulu, kalo closing club identik dengan lagu UNINTENDED nya Muse hwkwkwkwk )

Begitulah yang terjadi disekitaran kita tentang perubahan jaman dan respon yang seharusnya kita lakukan. Kalo kita tidak beradaptasi dengan cara yang benar, bisa jadi kita malah mati sendiri. Mau mematikan fungsi freelance dan mengambil karyawan?, boleh. Mau berhentiin karyawan, lalu pake freelance disetiap project?., itu juga boleh. Semua tergantung bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Mau nuruin harga demi dapet kerjaan? Boleh. Mau bikin brand baru dengan harga yg lebih bersahabat? Boleh. Mau nurunin kualitas produk? Juga boleh. Semua boleh kok. Tinggal manage semua resiko dan akibatnya.

Begitu juga dengan pelaku-pelakunya, termasuk milenials freelancer. Mau terus2an bergerak tanpa aturan dan menyesuaikan? Mungkin kalian bisa eksis diawal, tapi untuk masalah bertahan lama, mungkin kalian tetep butuh para senior buat share dan sebagai problem solver.

Coba anda baca sekali lagi tulisan ini dari atas sampe bawah. Bagaimana perubahan melanda disemua lini dan bidang. Perubahan tidak bisa disalahkan karena semuanya berkembang. Hanya terkadang perubahan tidak dilandasi pada kebaikan yang benar sehingga menghasilkan kesalahan-kesalahan yang biasanya menjadi kebiasaan yang harus di maklumi. Inti dari semua yang saya tulis dari atas sampe ke hampir akhir ini adalah bahwa perubahan itu selalu ada. Kalo kata Iwan Fals : “…didunia ini, tidak ada ketidakpastian yang pasti. Satu-satunya kepastian adalah perubahan itu sendiri…” Tinggal bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan yang ada. Perubahan yang terjadi dalam tempo dan perubahan yang tiba-tiba, sama-sama namanya perubahan. Cepat atau lambat pasti ada perubahan.

Selamat beradaptasi, selamat membenahi diri, salam dari saya yg suka kepo buat cari-cari topic

Ditulis oleh Irawan Gepy Kristianto @gepyisme @thephotoworks
www.thephotoworks.net | www.gepyandpuy.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *